Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Lingkungan
Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Lingkungan

dampak-teknologi-informasi-komunikasi

Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akan terus berkembang seiring waktu. Karena sudah menjadi sipat manusia selalu ingin melakukan perubahan dan kemajuan dalam segala hal. Tetapi disadari atau tidak, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut jelas mempengaruhi budaya dan tradisi manusia itu sendiri.

Pada kondisi tertentu terkadang hal ini akan menjadi sebuah dilema. Di mana disatu sisi perkembangan teknologi tersebut memang dibutuhkan untuk membantu manusia agar lebih mudah dalam mengatasi berbagai persoalan.

Tetapi disisi lain, dampak negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap tradisi dan budaya di masyarakat, baik secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan berbagai masalah baru yang bisa dianggap merugikan. Mari kita simak apa saja pengaruh negatif kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Berikut Dampak Negatif IPTEK Terhadap Lingkungan


Meningkatnya Pengangguran

meningkatnya-pengangguran

Meningkatnya angka pengangguran disebabkan tingkat kualifikasi persyaratan untuk para pencari kerja yang cukup tinggi. Sebagai negara berkembang, tentu standar hidup masyarakat di Indonesia belum merata seperti di negara-negara manju. Bahkan bisa dikatakan masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, hingga saat ini masih menjadi penduduk mayoritas di negri ini.

Sehingga sumber daya manusia yang ada, khususnya generasi muda.  Masih banyak yang pendidikannya hanya lulusan sekolah mengah umum. Sementara dilapangan kerja, kualifikasi syarat untuk para pencari kerja ini cukup tinggi, minimal lulusan sarjana D3 atau S1. Jadi bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya mereka mencari perusahaan yang menerima ijasah lulusan SMU.

Perubahan Gaya Hidup

perubahan-gaya-hidup

Perkembangan teknologi di sektor komunikasi misalnya. Saat ini kebanyakan orang lebih dekat dengan smarthphone mereka, ketimbang dengan sahabat atau keluarga. Hubungan langsung antar individu seolah menjadi sangat terbatas, disebabkan banyak orang lebih memilih ngobrol atau berhubungan lewat gadget mereka.

Dalam hal ini jelas terlihat bagaimana dampak negatif teknologi informasi dan komunikasi begitu cepat mengakibatkan pergeseran nilai pada budaya dan tradisi. Kini bahkan bukan cuma orang dewasa saja yang sibuk dengan HP mereka, anak-anak sekolah dasar juga sudah pada pegang Hp sendiri-sendiri.

Apabila tanpa bimbingan, anak-anak yang akan menjadi generasi berikutnya ini. Tentu saja bisa secara bebas mengkases konten apapun melalui internet dengan smarthphone yang dimilikinya. Termasuk mengkases konten dewasa dan mengkases budaya luar tanpa pengarahan dari orangtua.

Sehingga tidak heran, pergeseran nilai pada tradisi dan budaya tersebut dari waktu ke waktu merubah karakter masyarakat kita menjadi manusia yang individualis. Sehingga keinginan untuk hidup bersosialisasi secara langsung dengan teman atau lingkungan semakin berkurang, dan itu bisa kita lihat dengan jelas pada kebiasaan hidup masyarakat sekarang ini.

Terkikisnya Budaya dan Tradisi

terkikis-budaya-tradisi

Kita semua pasti bisa merasakan, bahwa budaya dan tradisi leluhur bangsa ini kian hari satu persatu lenyap dan tak nampak lagi. Digantikan oleh budaya asing yang semakin mendarah daging seolah menjadi tradisi baru di negri ini.

Dampak negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap sektor kesenian misalnya. Kalau dulu kita sering menyaksikan banyak sekali kesenian dan tradisi yang sering dipertontonkan oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat. Namun kini kesenian tradisional itu seolah hampir punah, digantikan dengan beragam budaya baru modern yang penuh dengan citra rasa budaya asing.

Membuat Orang Menjadi Pemalas

orang-pemalas

Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat. Semakin memudahkan orang untuk mencari segala sesuatu secara online. Berbelanja online misalnya, sikap konsumtif semakin mewabah karena segala yang dibutuhkan tersedia di berbagai toko online.

Sehingga dampak negatif teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih tersebut. Secara tidak langsung membuat orang cenderung lebih memilih berbelanja online, ketimbang harus pergi langsung ke tokonya. Lama kelamaan kebiasaan tersebut menjadikan orang malas dan kehilangan semangat serta kreatifitas. Karena cukup dengan menggunakan smarthphone, mereka bisa berbelanja apa saja tanpa harus keluar rumah.

Rendahnya Moralitas, Attitude dan Etika

rendahnya-moral-dan-etika

Saat ini kita bisa melihat dan merasakan bagaimana kemerosotan moral terjadi ditengah-tengah masyarakat khususnya generasi muda. Keseharian mereka lebih fokus dan sibuk dengan gadget dan HP masing-masing. Sehingga gaya hidup seperti itu menjadi kebiasaan sehari-hari. Akibatnya lama kelamaan generasi muda kita menjadi orang yang malas, kehilangan kreatifitas, dan semangat. Sehingga lebih sering merasa enggan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya sendiri.

Buruknya lagi, akses bebas melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terhadap budaya asing telah menjadi konsumsi setiap hari. Sehingga pergaulan bebas di kalangan remaja maupun orang dewasa kini seolah telah menjadi tradisi dan budaya sendiri yang sudah dianggap wajar dan biasa.

Karenanya tanpa disadari perubahan karakter dari generasi ke generasi begitu cepat terjadi. Rendahnya moralitas menjadikan gaya hidup generasi kita bebas tanpa tatakrama dan etika, sebab mengadopsi budaya asing. Hal itu kini semakin terlihat menjadi budaya lintas generasi di negri ini. Karena kurangnya kesadaran, pengawasan, dan perhatian terhadap dampak teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Kemajuan teknologi dan informasi tentu saja sangat tidak mungkin untuk dihentikan oleh siapapun juga. Tapi kita selalu berharap, supaya kesadaran masyarakat terhadap dampak teknologi informasi dan komunikasi lebih tinggi.

Agar kita semua bisa menggunakan kemajuan teknologi ini dengan lebih bijaksana, tanpa harus kehilangan tradisi dan budaya. Khusunya untuk dunia pendidikan dan para orangtua, diharapkan bisa memberikan kontrol berupa pengarahan, bimbingan, dan pengawasan yang lebih baik terhadap anak-anak dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel